Sabtu, 16 Juli 2011

syeakh azi achmad mengatakan: (nisfu sya'ban)

Mengenai do’a dimalam Nisfu Sya’ban adalah Sunnah Rasul SAW sebagaimana hadits-hadits berikut :

Sabda Rasulullah SAW :
“Allah mengawasi dan memandang hamba-hamba Nya dimalam nisfu sya’ban, lalu mengampuni dosa-dosa mereka semuanya kecuali musyrik
dan orang yang pemarah pada sesama muslimin” (Shahih Ibn Hibban hadits no. 5755)

Berkata Aisyah ra :
“Disuatu malam aku kehilangan Rasul SAW dan kutemukan Beliau SAW sedang di pekuburan Baqi’, beliau mengangkat kepalanya ke arah langit, seraya bersabda : Sungguh Allah turun ke langit bumi dimalam nisfu sya’ban dan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya sebanyak lebih dari jumlah bulu anjing dan domba” (Musnad Imam Ahmad hadits no. 24825)

Berkata Imam Syafi’i rahimahullah :
“Doa mustajab adalah pada 5 malam, yaitu malam jumat, malam idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertama bulan rajab dan malam nisfu sya’ban” (Sunan Al-Kubra Imam Baihaqiy juz 3 hal. 319)
Dengan fatwa ini maka kita memperbanyak do’a di malam itu, jelas pula bahwa do’a tak bisa dilarang kapan pun dan dimana pun, bila mereka melarang do’a, maka hendaknya mereka menunjukkan dalilnya?

Para ulama kita menyarankan untuk membaca surat Yaasiin tiga kali, itu pula haram seseorang mengingkarinya, kenapa dilarang? Apa dalilnya melarang seseorang membaca surat Al-Qur’an?
Melarangnya adalah haram secara mutlak.

Sebagaimana Imam Masjid Quba yang selalu menyertakan surat Al-Ikhlas bila ia menjadi Imam, selalu ia membaca surat Al-Ikhlas di setiap rakaatnya setelah surat Al-Fatihah,
ia membaca Al-Fatihah, lalu Al-Ikhlas, baru surat lainnya, demikian setiap rakaat ia lakukan dan demikian pada setiap shalatnya, bukankah ini kebiasaan yang tak diajarkan oleh Rasul SAW? Bukankah ini menambah-nambahi bacaan dalam shalat?

Maka makmumnya berdatangan pada Rasul SAW seraya mengadukannya, maka Rasul SAW memanggilnya dan bertanya mengapa ia berbuat demikian dan orang itu menjawab : “Inniy uhibbuhaa”(Aku mencintainya), yaitu ia mencintai surat Al-Ikhlas, hingga selalu menggandengkan Al-Ikhlas dengan Al-Fatihah dalam setiap rakaat dalam shalatnya. Apa jawaban Rasul SAW? Beliau bersabda :
“Hubbuka iyyahaa adkhalakal Jannah” (Cintamu pada surat Al-Ikhlas itulah yang akan membuatmu masuk surga)

Hadits ini dua kali diriwayatkan dalam Shahih Bukhari.
Dan shahih Bukhari adalah kitab hadits yang terkuat dari seluruh kitab hadits lainnya untuk dijadikan dalil.
Akan jelaslah Rasul SAW tak melarang berupa ide–ide baru yang datang dari iman, selama tidak merubah syariah yang telah ada, apalagi hal itu merupakan kebaikan.
Dan do’a nisfu sya’ban adalah mulia, apa yang diminta? Panjang umur dalam taat pada Allah, diampuni dosa-dosa, diwafatkan dalam husnul khatimah.
Salahkah do’a seperti ini? Akankah perkumpulan seperti ini dibubarkan dan ditentang????!!!!.

Kamis, 07 Juli 2011

Istri Yang Bijak

Diceritakan bahwa Putri Qara adalah istri saudagar kaya Amenhotep, berasal dari keluarga sederhana, tapi pintar, bijaksana dan berbudi pekerti yang baik. Karena ia berasal dari keluarga yang lebih miskin dibanding dengan suaminya, ia sering diperlakukan dengan tidak selayaknya.
Suatu hari ia dan suaminya pergi ke desa nelayan dan melihat ada seorang nelayan yang miskin dan istrinya. Nelayan tersebut sangat miskin dan bahkan untuk membeli jala yang baru untuk mengganti jalanya yg robek pun ia tidak mampu.
Istri nelayan tersebut adalah orang yang pemboros, malas dan suka berjudi, seluruh penghasilan suaminya digunakannya untuk berfoya-foya.
Melihat kenyataan seperti itu, Putri Qara berkata kepada suaminya, bahwa seharusnya istri nelayan tersebut membantu memperbaiki jala suaminya.
Amenhotep, menentang pendapat istrinya, mereka berdebat, sehingga Amenhotep marah dan kemudian memanggil nelayan miskin tersebut. Amenhotep menukarkan Putri Qara dengan istri nelayan tersebut. Putri Qara sedih karena terhina, suaminya memperlakukan seolah-olah dia adalah barang yang bisa dipertukarkan semaunya. Sang nelayan tertegun dan tidak berani membantah, karena Amenhotep terkenal kejam dan sadis karena kekayaannya.
Putri Qara rajin membantu suaminya yang baru dalam bekerja. Karena kepandaian dan kebijaksanaan Putri Qara, lambat laun sang nelayan menjadi kaya.
Suatu ketika ada seorang tua dengan baju compang-camping dan tidak terurus datang ke rumah Putri Qara, pelayan dirumah tersebut mengenalinya sebagai Amenhotep. Amenhotep kemudian melepas terompahnya dan meletakkan di meja kecil di sudut rumah Putri Qara. Oleh pelayan, terompah tersebut diberikan pada Putri Qara dan menceritakan kondisi pemiliknya, sang putri mengenali terompah tersebut dan memerintahkan pelayannya untuk memberikan pada Amenhotep baju baru, terompah baru dan 3 keping uang emas ditambah pesan: aku tidak diwarisi kekayaan tetapi budi pekerti, kebijaksanaan dan kemauan untuk bekerja.
Amenhotep menerima pemberian itu dengan penyesalan akan tindakannya di masa lalu, karena ego-nya dia menukar istrinya yang baik dan bijaksana dengan seorang wanita yang hanya bisa menghamburkan harta suaminya.
Cerita tersebut sederhana, tapi menyentuh karena ternyata begitu besar pengaruh seorang istri untuk suaminya.
Oleh karenanya, hai wanita dampingi dan dukunglah pria dengan bijaksana, dan hai pria perlakukanlah wanita dengan penuh kasih, karena pada setiap pria yang sukses pasti terdapat seorang wanita yang mendukungnya dengan bijaksana.